Olahraga dan Yoga: Di Mata Saya

Sejak kanak-kanak, Junita Liesar telah sangat menggemari olahraga alami. Beliau mengenang masa-masa kecilnya ketika beliau tumbuh di sebuah kampung pesisir pantai di Ternate, Kepulauan Maluku. Tumbuh besar di sebuah rumah sederhana, dengan latar belakang pemandangan pantai dan perairan biru sejernih kristal, Junita dapat mendengar deburan ombak lautan dan menonton para lumba-lumba berenang dari halaman depan rumahnya yang menghadap ke laut tersebut.

“Kalau saya ingin berenang, saya tinggal lari ke pantai dan berenang dengan bebas di laut; kalau saya ingin berlari, saya menjelajahi rute dengan pemandangan yang indah di sepanjang pesisir pantai dekat rumah, dan terus berlari seolah saya sedang mengejar matahari. Sejak masih kecil, saya memang merupakan seseorang yang menggemari olahraga, dan saya suka sekali olahraga alami,” ibu dari tiga buah hati ini menjelaskan. Untuk beliau, berenang di kolam renang atau berlari diatas treadmill tidak cukup memberikan sensasi kebebasan yang ia dapat dibandingkan dengan berenang atau berlari di alam bebas—bahkan hingga kini.  

Untuk yoga, Junita mengatakan beliau mulai memiliki passion terhadap disiplin tersebut sejak ia berusia 20 tahun-an. Setelah menetap di London selama enam tahun, beliau kembali ke tanah air dan menetap di Surabaya, Jawa Timur, dimana ia bertemu dengan seorang pengajar yoga pertama kalinya. Junita menganggap gurunya tersebut sebagai panutan: beliau merupakan seorang wanita berumur 40 tahun yang terlihat jauh lebih muda dari umurnya. “Karena yoga—ia memancarkan aura muda penuh karisma, dan untuk seseorang seusianya—hal itu sangat menginspirasi.”

Sejak saat itu, Junita tanpa henti mempraktekkan disiplin tersebut untuk menyeimbangkan tubuh, pikiran, dan jiwanya. Kini, sebagai seorang praktisi yang memiliki sertifikasi untuk mengajar yoga, Junita melakukan yoga hampir setiap hari: beliau memulai rutinitas harinya dengan meditasi selama 5 hingga 10 menit, diikuti dengan peregangan, gerakan sun salutation, dan melakukan yoga itu sendiri, yang kesemuanya dilakukan selama 45 menit. Untuk beliau, yoga bukan hanya tentang teknik dan pose—yoga itu spiritual, sebuah eksplorasi yang dilakukan tiap hari untuk menemukan inner-self dan untuk bersatu dengan alam semesta.

“Setiap akhir sesi yoga, kami melakukan shavasana atau pose mayat (the corpse pose), yang mana dipraktekkan dalam posisi berbaring dengan punggung, lengan, dan kaki terlentang selebar 45 derajat. Di sini, tubuh kita menjadi rileks, pikiran kira memutuskan hubungan dengan dunia luar. Inilah waktu dimana kita dapat melihat ke dalam diri kita dan berbincang dengan Tuhan—sebuah disiplin yang sangat bermanfaat untuk memulai hari kita.”