JOURNAL
Pola Makan dan Tubuh, Pikiran, dan Jiwa
Menurut pandangan Junita Liesar, selain yoga dan olahraga, pola makan juga merupakan kunci untuk memelihara kesehatan dan kebugaran secara umum. Beliau adalah pendukung diet yang masuk akal, selama pola diet tersebut tidak menghilangkan nutrisi penting yang dibutuhkan. Beliau makan tiga kali sehari, namun juga mengikuti satu aturan penting; yaitu makan dalam porsi kecil penuh nutrisi.
Dan jika ada satu pola diet terbaik yang sejauh ini cocok untuknya, itu adalah pola diet berdasarkan golongan darah (golongan darah Anda menentukan jenis makanan yang paling baik dikonsumsi untuk kesehatan dan yang paling efektif untuk mengontrol berat badan). Sebagai wanita dengan golongan darah O, Junita mencoba untuk mengurangi konsumsi mie dan nasi, karena beliau percaya bahwa dua bahan makanan tersebut merupakan kontributor terbesar naiknya berat badan.
“Meskipun demikian, bukan berarti saya berhenti makan nasi atau mie sama sekali. Sebagai contoh, saya masih makan nasi untuk sarapan. Sebenarnya, nasi adalah sumber bahan bakar jangka panjang untuk memulai hari. Lalu, untuk makan siang, saya hanya mengonsumsi dua atau tiga sendok nasi, dan tidak makan nasi sama sekali untuk makan malam. Begitulah cara saya mengatur pola makan—tentu saja diiringi dengan konsumsi lebih banyak sayur dan makanan rebus atau kukus dibandingkan dengan daging dan goreng-gorengan,” Junita melanjutkan.
Selain hal-hal tersebut, untuk mencapai kesatuan tubuh, pikiran, dan jiwa melalui meditasi di pagi hari dan malam hari juga merupakan bagian dari rahasia kebahagiaan a la Junita. Meditasi di pagi hari menjadi bagian dari rutinitas yoga pagi; sedangkan di malam hari, beliau melakukan meditasi untuk meninjau diri dan hidupnya pada hari itu. Sesungguhnya, dari meditasi muncul kebijaksanaan, yang mana dari sanalah beliau dapat mengukur kekurangannya, dan menilai apa saja yang dapat beliau perbaiki. “Di malam hari, saya merenung dan memikirkan setiap masalah yang sedang saya hadapi, baik di lingkup keluarga maupun pekerjaan, dari berbagai perspektif. Saya lalu bertanya pada diri sendiri, ‘Apakah saya sudah cukup baik hari ini?’, ‘Apakah saya sudah cukup menginspirasi staf saya hari ini?’ atau ‘Mengapa saya tidak mengatakan ini alih-alih itu?’”
Pada akhirnya, Junita ingin menjadi manusia yang lebih baik, seorang pemimpin yang lebih baik setiap harinya, untuk dirinya sendiri dan untuk orang-orang di sekitarnya. “Pemimpin-pemimpin terbaik adalah mereka yang memuliakan dan membantu orang lain, terutama mereka orang kecil. Menghargai setiap orang setiap saat merupakan perilaku yang penting, dan saya adalah tipe pemimpin yang ingin maju bersama dengan staf saya melalui rasa saling menghargai, pemberdayaan, dan kasih sayang.”
Beliau percaya bahwa para pekerjanya adalah aset dan warisan terbesarnya; bukan bangunan, struktur organisasi, ataupun proyek. “Jika Anda melihat kehidupan pribadi saya dengan seksama, Anda akan menyaksikan loyalitas pekerja saya karena saya memperlakukan mereka layaknya keluarga saya sendiri. Supir dan juru masak saya, contohnya, telah bekerja dengan saya selama 25 tahun, dan hal itu merupakan sesuatu yang saya banggakan. Kesetiaan yang diberikan oleh para pekerja tidak hanya didapatkan dari materi semata—dibutuhkan belas kasih dan kebaikan hati, dan tentu saja, rasa saling menghargai dan perilaku yang adil kepada satu sama lain.”
Posted on July 25th, 2015